Type what you are searching for:
Welcome to Bloods.

BLOODS VISUAL STRIKES 1

BLOODS VISUAL STRIKES 1

Sejak musik mulai memasuki era rekaman populer, musik dan karya rupa berkelindan sedemikian rupa saling berpengaruh satu dan lainnya. Dalam prosesnya, kita menyaksikan bahwa musik tak berjalan sendirian sebagai medium ekspresi, ia tak pernah bisa dilepaskan dengan budaya visual yang menyertainya.

Bandung merupakan laboratorium subkultur sejak tiga dekade lalu. Skena musik independen memiliki sejarah yang cukup panjang di sini. Irisan musik dan rupa pula hadir secara intens sejak skena ini pula menghasilan artefak-artefak rekaman dari pertengahan 90-an hingga hari ini. Jika seseorang menyebut skena musik, sudah secara langsung atau tidak, itu pula berarti ‘skena’ seni rupa yang khas. Ketika independensi hadir sebagai alternatif dari industri musik besar, otonomi band yang diinisiasi di skena ini pula berarti otonomi menentukan ekspresi seperti apa yang hadir di sampul album mereka. Selama itu pula, artwork selalu menjadi bagian dari perjalanan skena musik independen.

Seiring dengan perkembangannya, artwork tak melulu artinya sampul rekaman (kaset, CD, piringan hitam). Sebagai bagian dari wilayah ekonomi komunitas, ilustrasi dan desain grafis memiliki peran yang sangat penting pada pembuatan merchandise dan elemen pendukung promosi lainnya. Selama itu pula budaya rupa memiliki ruang apresiasinya sendiri di skena musik dan menghasilkan banyak catatan menarik.

Visual Strike ini merupakan diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kami pada hubungan inspirasional dan mutual antara wilayah musik dan rupa tersebut mengingat hal ini lah yang menjadi tulang punggung subkultur.

 

Tahun ini kami mengundang beberapa perupa yang kami anggap memiliki banyak peran dalam menghasilkan karya-karya yang digunakan oleh para musisi lokal. Kami ajak mereka untuk memilih sendiri dan menginterpretasikan album favorit mereka ke dalam bentuk rupa, dengan spektrum teknis berbeda, sekaligus bercerita tentang peran dan inspirasi musik dalam karya mereka.

Hasil karya yang mereka kerjakan selama 3 bulan ini akan dipamerkan di Ruang Galeri – IFI Bandung Jalan Purnawarman No.32. Jumat hingga Minggu, 10 s/d 12 Agustus 2018.

Dalam kesempatan ini juga kami mengadakan diskusi panel yang membicarakan dinamika dan apresiasi karya rupa di skena musik lokal. Perihal bagaimana karya rupa diproduksi, diakses, dihargai dan dipakai pada produk-produk musik, dari mulai t-shirt/merchandise, sampul rekaman, poster acara dan lain sebagainya. Perihal dinamik relasi ini dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangannya. Melibatkan para pelaku yang terlibat dalam prosesnya; seniman, pemilik label dan produsen merchandise di antaranya. Dengan harapan memantik wacana tentang kesadaran publik yang tercipta dalam upaya mengapresiasi karya rupa secara kultural maupun ekonomi.

 

 

MORRG, yang bernama asli Indra Wirawan ini lahir di Pekanbaru sebelum kemudian menetap di Bandung. Ia merupakan juga vokalis dan pemain bass dari band grindcore lokal, Rajasinga. Morrg telah lama berproses dan berkarya terutama dengan media cat air. Memiliki penggayaan khas yang naratif dengan karakter fantasi yang gelap. Karya ilustrasinya kerap dipakai tak hanya oleh bandnya sendiri namun juga oleh banyak band musik keras lainnya, baik sebagai bagian dari desain kaos atau sampul album. Karya terkininya adalah sampul album band death metal Bandung, Forgotten yang baru saja dirilis beberapa bulan lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

KEN TERROR, berdomisili di Bandung, sudah sejak tahun 1999 dikenal sebagai illustrator gambar hitam putih dengan ciri khasnya yang unik. Sosok yang bernama asli Ivan Nugraha ini memiliki daftar panjang karyanya yang dipakai untuk kebutuhan sampul album, poster dan tshirt di skena music terutama skena hardcore punk. Ini tak bisa dilepaskan dari peran Ken sendiri sebagai musisi, bermain drum untuk Domestik Doktrin, Hark! Its A Crawling Tartar dan Kontrasosial di antaranya. Dengan pengaruh kuat Pushead, Mike Sutfin dan visual-visual fanzine hardcore/punk, Ken memiliki kekhasan karya yang menggabungkan garis yg kuat dan komposisi yang dilakukan dengan teknik stipling. karyanya dipakai oleh band-band lokal, Turtles Jr, Decay, Jeruji, Extreme Decay, Hellowar hingga Godless Symptoms. Juga oleh band mancanegara seperti Pisschrist, I Object!, Bones Brigade, Disgust, Magrudergrind, hingga Extreme Noise Terror.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TREMOR, ilustrator yang lahir dan tinggal di Bandung hingga hari ini, banyak terlibat di skena lokal sejak era 90-an. Sempat tergabung di unit hardcore punk A Friend For Life dan belakangan, Milisi Kecoa, juga merilis fanzinenya sendiri Beyond the Barb Wire. Tangannya yang kerap bergetar alias tremor, tak mengizinkannya untuk bisa membuat garis lurus atau rapih. Namun dengan garis sedemikian rupa Dani menghasilkan karya-karya yang kerap identik dengan imaji gore, fantasi gelap dan visualisasi sejenis yang terinspirasi film-film horor. Ia sering diminta untuk menggarap sampul album dan desain tshirt band lokal selain tentunya industri apparel. Dari Aneka Digital Safari hingga Kalelawar Malam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ENRICO HARINATTA, yang kerap dipanggil Riko, pada dasarnya merupakan seniman tato yang memiliki kekhasan karya realisme. Setelah bekerja di sebuah studio tato di Yogyakarta, akhirnya ia memutuskan untuk membuka private tattoo studio sendiri, di jantung kota Bandung. Namun di samping mentato, ia pula memiliki kepiawaian drawing yang unik, yang sering ia lakukan di sela kesibukannya menggambar tato. Ilustrasi Riko seringnya dalam format hitam putih, yang melukiskan potrait musisi-musisi favoritnya, luar dan lokal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RIANDY KARUNIAWAN, seniman/ilustrator kelahiran Aceh dan memilih Bandung sebagai kota untuk mengembangkan potensinya dalam seni. Sosok yang kerap dipanggil Andy ini merupakan mahasiswa lulusan Arsitek Unpar Bandung, namun dikenal banyak karena karya-karya lukisan/ilustrasinya yang banyak dipakai oleh musisi lokal ; dari mulai Suri, Ghaust, Homicide, Komunal, Rajasinga, dll. Untuk kebutuhan beragam pula dari mulai sampul album hingga kaos band. Karyanya yang vibran penuh warna dan surealistik kerap erat dengan tema-tema memori dan kesadaran yang sering memakai objek-objek mitologi di dalamnya. Tak jarang Riandy mengeksplorasi berbagai media dan medium pada setiap karyanya, dari mulai akrilik, drawing hingga teknik cetak tinggi. Pameran tunggalnya sukses digelar pada awal tahun lalu, dan ia baru saja selesai menyelenggarakan pameran bersama di Tokyo, Jepang bersama beberapa rekannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

LUKE HEARTWORK, bernama asli Luckyta Akbar, merupakan musisi yang malang melintang di banyak grup musik di Bandung, sebelum berakhir sebagai gitar session player di unit hardcore, Lose It All. Ia pula seorang desainer grafis dan perupa jebolan Seni Rupa UPI Bandung. Karyanya beragam dari mulai karya lukis hingga mix-media dan kolase digital kerap meminjam simbol-simbol yang bertemakan keterasingan manusia modern. Ia pula sering merancang grafis bagi band lokal, baik untuk sampul album maupun kebutuhan merchandise.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SENARTOGOK, sering dipanggil Tarjo, merupakan musisi folk dan hip hop asal Medan namun berdomisili dan berkarya di kota Bandung. Ia pula dikenal dengan karya-karya rupanya yang dibuat dengan teknik kolase tradisional. Berbahankan potongan media cetak (majalah, koran dsb), karyanya memiliki pengaruh kuat dari Gee Vaucher, seniman kolase yang berafiliasi dengan grup anarko-punk, Crass. Tak heran jika karya-karyanya dengan sengaja merangkai simbol-simbol yang direka sedemikian rupa sehingga terbaca provokatif. Ia kerap memakai karyanya selain untuk terbitan yang rilis via Perpustakaan Jalanan Bandung, juga dipakai untuk poster, promosi dan sampul-sampul album musisi di lingkarannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RIVALDY EDYWAR, yang pula memiliki nama julukan Shake, merupakan seniman graffi ti yang menekuni artform itu sejak akhir 90-an. Ia bersama banyak rekan lainnya di Bandung membentuk kru graffi ti FAB Family. Penggayaannya merupakan gaya klasik dari graffi ti wildstyle yang terpengaruh oleh seniman graffi ti era awal di kultur hiphop. Ia pula sering diminta mengerjakan elemen estetik dan tipografik bagi musisi lokal. Baik untuk kebutuhan merchandise atau sampul dan promosi album. Dari mulai West Side Hoodz, Sonjah, hingga Insthinc.

 

 

 

 

 

 

 

JADWAL RANGKAIAN ACARA:

 

PAMERAN KARYA 8 PERUPA

Tempat: Galeri IFI Bandung

Jum’at s/d Minggu. 10-12 Agustus 2018 Pukul: 11.00-21.00

 

Opening

Tempat: Galeri IFI Bandung Jum’at, 10 Agustus 2018 Pukul: 15.00

 

Artist Talk

Tempat: Ruang Auditorium IFI Bandung.

Minggu, 12 Agustus 2018

Pukul: 18.00-19.00

Moderator: Idhar Resmadi

Panel : Para seniman dan Herry Sutresna (kurator,Grimloc Records)

 

DISKUSI PANEL

“Dinamika dan Apresiasi Terhadap Karya Rupa di Skena Musik Lokal”

Tempat: Ruang Auditorium IFI Bandung.

Minggu, 12 Agustus 2018

Pukul: 19.15-21.15

Moderator: Tri Yuliantoro (Omuunium)

Narasumber:

  • Arian13 (Lawless Records, Seringai),
  • Amenkcoy (Perupa/Ilustrator),
  • Vidi Nurhadi (Disaster Records, Maternal Disaster)

 

 

 

 

SMALL GIG

PERILISAN ALBUM 3-WAY SPLIT “UNSTOPPABLE”

Performance

Take The Risk (Malang) Tigerwork (Tasikmalaya) Standfree (Bandung)

Tempat: Ruang Auditorium IFI Bandung.

Minggu, 12 Agustus 2018

Pukul: 15.00-17.00

 

LAPAK KOMUNITAS

Tempat: Ruang lorong IFI Bandung.

Minggu, 12 Agustus 2018

Pukul: 13.00-21.15

  • Rumah Bintang,
  • Perpustakaan Jalanan,
  • Rumah Cemara,
  • Klab Zine Bandung
No Comments
Leave a Comment

WhatsApp chat