Type what you are searching for:
Welcome to Bloods.

Bloods Visual Strikes Tasikmalaya

Bloods Visual Strikes Tasikmalaya

Sejak awal kami merencanakan event Visual Strikes ini, kami sangat tertarik untuk berniat membawanya keliling ke kota lain selain Bandung. Dalam kesempatan ini, kami gelar di Tasikmalaya, salah satu kota di Jawa Barat yang dikenal juga memiliki dinamika skena musik dan seni rupa yang dinamis.

 

Di Tasik, skena musik independen bergeliat dan tumbuh pesat sejak, katakanlah, 10 tahun terakhir. Di sini lahir banyak talenta dan karya-karya luar biasa yang jarang terekspos baik secara regional apalagi nasional. Seperti halnya di ruang-ruang di budaya populer, Dalam prosesnya, kita menyaksikan bahwa musik tak berjalan sendirian sebagai medium ekspresi, ia tak  pernah  bisa dilepaskan  dengan budaya visual yang menyertainya.

 

Di Tasikmalaya pula, kita menemukan musik dan karya rupa pula berkelindan sedemikian rupa berpengaruh satu sama lain. Disadari atau tidak oleh para pelaku. Di kita ini kita pula menemukan para perupa yang sering kali karyanya acap kali dipakai sebagai artefak musik, baik sebagai sampul rekaman, poster acara hingga merchandise.

 

Pada kesempatan ini, kami membawa karya-karya seniman yang pada bulan Agustus lalu dipamerkan di Bandung. Visual Strike ini merupakan diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kami pada hubungan inspirasional dan mutual antara wilayah musik dan rupa tersebut mengingat hal ini lah yang menjadi tulang punggung subkultur.

 

Dengan bantuan kurasi dari Herry Sutresna dari Grimloc Records, tahun ini kami mengundang beberapa perupa yang kami anggap memiliki banyak peran dalam menghasilkan karya-karya yang digunakan oleh para musisi lokal. Kami ajak mereka untuk memilih sendiri dan menginterpretasikan album favorit mereka ke dalam bentuk rupa, dengan spektrum teknis berbeda, sekaligus bercerita tentang peran dan inspirasi musik dalam karya mereka.

 

Hasil karya yang mereka kerjakan selama 3 bulan ini telah dipamerkan perdana di Bandung, pada bulan Agustus lalu. Dan akan kami gelar ulang Tasikmalaya, pada hari Sabtu, 29 September 2018, di Ruang Naw Naw Aliansi, Jl. Cipedes II No. 26.

 

Dalam kesempatan ini juga kami mengundang perupa lokal yang memiliki relasi musik-rupa yang serupa untuk memamerkan karya mereka; Erfan, Bogel dan Kiken. Ketiganya merupakan perupa yang lahir dari skena komunitas yang beririsan erat dengan musik.

 

Di samping itu, kami juga menggelar lapak komunitas dan mengadakan diskusi panel yang membicarakan dinamika dan apresiasi karya rupa di skena musik lokal. Tepatnya, perihal dinamika komunitas, bagaimana karya lahir, beririsan dengan skena musik dan pada akhirnya membuat para pelakunya berkomunitas, dengan harapan memantik wacana tentang kesadaran publik di kawan-kawan Tasikmalaya agar dapat lebih berkembang lagi secara secara kultural maupun ekonomi.

 

Pada pelaksanaannya, Blood Visual Strikes ini diadakan berbarengan dengan event reguler Bloods Skate Invasion, sebuah event reguler yang diselenggarakan untuk mengapresiasi subkultur skateboard dan diadakan dari kota ke kota. Pada tanggal 30 itu juga, Joe Million, rapper wajah baru yang fenomenal akan memeriahkan petang dengan setlist penampilannya.

 

 

MORRG, yang bernama asli Indra Wirawan ini lahir di Pekanbaru sebelum kemudian menetap di Bandung. Ia merupakan juga vokalis dan pemain bass dari band grindcore lokal, Rajasinga. Morrg telah lama berproses dan berkarya terutama dengan media cat air. Memiliki penggayaan khas yang naratif dengan karakter fantasi yang gelap. Karya ilustrasinya kerap dipakai tak hanya oleh bandnya sendiri namun juga oleh banyak band musik keras lainnya, baik sebagai bagian dari desain kaos atau sampul album. Karya terkininya adalah sampul album band death metal Bandung, Forgotten yang baru saja dirilis beberapa bulan lalu.

KEN TERROR, berdomisili di Bandung, sudah sejak tahun 1999 dikenal sebagai illustrator gambar hitam putih dengan ciri khasnya yang unik. Sosok yang bernama asli Ivan Nugraha ini memiliki daftar panjang karyanya yang dipakai untuk kebutuhan sampul album, poster dan tshirt di skena music terutama skena hardcore punk. Ini tak bisa dilepaskan dari peran Ken sendiri sebagai musisi, bermain drum untuk Domestik Doktrin, Hark! Its A Crawling Tartar dan Kontrasosial di antaranya. Dengan pengaruh kuat Pushead, Mike Sutfin dan visual-visual fanzine hardcore/punk, Ken memiliki kekhasan karya yang menggabungkan garis yg kuat dan komposisi yang dilakukan dengan teknik stipling. karyanya dipakai oleh band-band lokal, Turtles Jr, Decay, Jeruji, Extreme Decay, Hellowar hingga Godless Symptoms. Juga oleh band mancanegara seperti Pisschrist, I Object!, Bones Brigade, Disgust, Magrudergrind, hingga Extreme Noise Terror.

DANI TREMOR, ilustrator yang lahir dan tinggal di Bandung hingga hari ini, banyak terlibat di skena lokal sejak era 90-an. Sempat tergabung di unit hardcore punk A Friend For Life dan belakangan, Milisi Kecoa, juga merilis fanzinenya sendiri Beyond the Barb Wire. Tangannya yang kerap bergetar alias tremor, tak mengizinkannya untuk bisa membuat garis lurus atau rapih. Namun dengan garis sedemikian rupa Dani menghasilkan karya-karya yang kerap identik dengan imaji gore, fantasi gelap dan visualisasi sejenis yang terinspirasi film-film horor. Ia sering diminta untuk menggarap sampul album dan desain tshirt band lokal selain tentunya industri apparel. Dari Aneka Digital Safari hingga Kalelawar Malam.

ENRICO HARINATTA, yang kerap dipanggil Riko, pada dasarnya merupakan seniman tato yang memiliki kekhasan karya realisme. Setelah bekerja di sebuah studio tato di Yogyakarta, akhirnya ia memutuskan untuk membuka private tattoo studio sendiri, di jantung kota Bandung. Namun di samping mentato, ia pula memiliki kepiawaian drawing yang unik, yang sering ia lakukan di sela kesibukannya menggambar tato. Ilustrasi Riko seringnya dalam format hitam putih, yang melukiskan potrait musisi-musisi favoritnya, luar dan lokal.

RIANDY KARUNIAWAN, seniman/ilustrator kelahiran Aceh dan memilih Bandung sebagai kota untuk mengembangkan potensinya dalam seni. Sosok yang kerap dipanggil Andy ini merupakan mahasiswa lulusan Arsitek Unpar Bandung, namun dikenal banyak karena karya-karya lukisan/ilustrasinya yang banyak dipakai oleh musisi lokal ; dari mulai Suri, Ghaust, Homicide, Komunal, Rajasinga, dll. Untuk kebutuhan beragam pula dari mulai sampul album hingga kaos band. Karyanya yang vibran penuh warna dan surealistik kerap erat dengan tema-tema memori dan kesadaran yang sering memakai objek-objek mitologi di dalamnya. Tak jarang Riandy mengeksplorasi berbagai media dan medium pada setiap karyanya, dari mulai akrilik, drawing hingga teknik cetak tinggi. Pameran tunggalnya sukses digelar pada awal tahun lalu, dan ia baru saja selesai menyelenggarakan pameran bersama di Tokyo, Jepang bersama beberapa rekannya.

LUKE HEARTWORK, bernama asli Luckyta Akbar, merupakan musisi yang malang melintang di banyak grup musik di Bandung, sebelum berakhir sebagai gitar session player di unit hardcore, Lose It All. Ia pula seorang desainer grafis dan perupa jebolan Seni Rupa UPI Bandung. Karyanya beragam dari mulai karya lukis hingga mix-media dan kolase digital kerap meminjam simbol-simbol yang bertemakan keterasingan manusia modern. Ia pula sering merancang grafis bagi band lokal, baik untuk sampul album maupun kebutuhan merchandise.

SENARTOGOK, sering dipanggil Tarjo, merupakan musisi folk dan hip hop asal Medan namun berdomisili dan berkarya di kota Bandung. Ia pula dikenal dengan karya-karya rupanya yang dibuat dengan teknik kolase tradisional. Berbahankan potongan media cetak (majalah, koran dsb), karyanya memiliki pengaruh kuat dari Gee Vaucher, seniman kolase yang berafiliasi dengan grup anarko-punk, Crass. Tak heran jika karya-karyanya dengan sengaja merangkai simbol-simbol yang direka sedemikian rupa sehingga terbaca provokatif. Ia kerap memakai karyanya selain untuk terbitan yang rilis via Perpustakaan Jalanan Bandung, juga dipakai untuk poster, promosi dan sampul-sampul album musisi di lingkarannya.

RIVALDY EDYWAR, yang pula memiliki nama julukan Shake, merupakan seniman graffi ti yang menekuni artform itu sejak akhir 90-an. Ia bersama banyak rekan lainnya di Bandung membentuk kru graffi ti FAB Family. Penggayaannya merupakan gaya klasik dari graffi ti wildstyle yang terpengaruh oleh seniman graffi ti era awal di kultur hiphop. Ia pula sering diminta mengerjakan elemen estetik dan tipografik bagi musisi lokal. Baik untuk kebutuhan merchandise atau sampul dan promosi album. Dari mulai West Side Hoodz, Sonjah, hingga Insthinc.

 

 

 

JADWAL RANGKAIAN ACARA Bloods Skate Invasion

 

Tempat : Ruas Jl. Cipedes II (depan Naw Naw Aliansi) Opening pukul 15.30

Fun Games pukul 15.30 – 16.30

Best Trick Semi Kompetisi pukul 16.30 – 17.30 BBQ Party dan Penyerahan Plakat 18.00 – 19.00 Tuan Sendiri 19.00 – 19.40

R.I.M 19.40 – 20.20

Joe Milion 20.20 – 21.00

 

 

JADWAL RANGKAIAN ACARA Bloods Visual Strikes

 

PAMERAN KARYA 8 PERUPA (Visual Strike)

Tempat : Naw Naw Aliansi (Jl. Cipedes II No. 26 – samping RM. Balakecrakan)

Opening

Sabtu, 29 September 2018 Pukul 18.00

 

DISKUSI PANEL

“Dinamika Skena Rupa dan Musik di Tasikmalaya dan Kesadaran ” Tempat : Naw Naw Aliansi (Jl. Cipedes II No. 26 – samping RM. Balakecrakan)

Minggu, 30 September 2018 Pukul: 18.00 – 20.00

Moderator: Ramli Setiawan Panelis:

Herry Sutresna (kurator Visual Strike, Grimloc Records)

Erfan (Tembok Tasik)

Rahmat Gunadi (Tigerwork).

 

 

 

LAPAK KOMUNITAS

 

GALERI JALANAN

GALERI JALANAN adalah komunitas perpustakaan jalanan di kota Tasikmalaya. Berdiri sejak Desember 2015, Awal mula terbentuknya “Galeri Jalanan” dimulai ketika sekelompok kawula muda sering berkumpul, ngopi bersama, berinteraksi, dan berdiskusi. Melihat kondisi Tasikmalaya yang kian hari kian tidak baik-baik saja , Kebanyakan ruang publik pada malam hari menjadi teritorial anak gangster,orang- orang berpacaran yang melakukan tindakan senonoh, mabuk-mabukan dan paling parah adalah ke-APATIS-an masyarakat itu sendiri. Sebagai pemuda kami menyadari bahwasanya kita pemuda penerus dan pelurus bangsa. Selain ingin meningkatkan minat baca buku masyarakat Tasikmalaya, kami juga ingin menumbuhkan dan meningkatkan minat baca lingkungan masyarakat terhadap kotanya sendiri. Kami melapak setiap hari sabtu malam (malam minggu) di Alun- alun kota Tasikmalaya.

Social media yg bisa di kunjungi Instagram : @galeri_jalanan

 

TEMBOK TASIK

Di awal tahun 2006 tasikmalaya sudah mulai ada pelaku graffi ti , saat itu awal memulai turun kejalan masing” pelaku graffi ti di tasikmalaya masih di pertanyakan, dan tidak sama sekali mengenal percis pelakunya siapa , hanya setiap ada karya di jalan satu sama lain saling mencari si pelaku karya” di jalan yg di jaman itu memang spotnya semua illegal dan benar” bombing tanpa ijin sama sekali , setelah masuk ke awalan 2008 karya” graffi ti di tasikmalaya mulai bermunculan dan masih saling mencari si pelaku” graffi ti , pada era awalan social media berkembang , dengan adanya friendster / blog masing” pelaku di jalanan mulai tau siapa si pelaku dan karya yg di buat karena mulai” posting karya masing” , masuk di tahun 2009 facebook mulai bisa dijadikan media untuk mencari lagi sebanyak apa sih pelaku graffi ti di tasikmalaya , ternyata lumayan respon yg sangat bagus ,banyak yg mau ikut gambar juga , dan di tasik mulai beragam dengan crew” graffi ti nya, pada saat itulah mulai scene graffi ti TEMBOKTASIK di buat oleh beberapa crew yg setuju membuat media  yg lebih global , masuk di tahun 2010 sepakat untuk membuat movement semua pelaku graffi ti dan street art mengadakan event di stadion dadaha tasikmalaya untuk lebih show up ke masyarakat , dengan mengenalkan seni tersebut , video recap bisa di search di youtube ( Tasikmalaya Street Art ) nama sebelum TEMBOKTASIK terbentuk .

Dengan sering membuat pergerakan graffi ti jamming , sharing , dan membuat misi lebih jelas kedepannya , seperti mengundang artist luar kota buat gambar bareng di tasik , begitupun pelaku TEMBOKTASIK yg merencanakan trip keluar kota untuk saling memperkuat koneksi .

TEMBOKTASIK sampai saat ini masih tetap tumbuh dengan regenerasi yg lebih banyak dan masing” mempunyai style yg lebih bagus daripada pelaku” lama sebelumnya , acara tahunan yg masih tetap aktif dan di bilang media yg lumayan besar yaitu TEMBOKTASIK vol 1 , vol 2 , vol 3 , sampai seterusnya .

Social media yg bisa di kunjungi Instagram : @temboktasik

 

RAAMFEST

Media Digital Multikreatif yang diinisiasi anak-anak muda untuk berkolaborasi dalam satu jenama. Penulis, musisi, fotografer, ilustrator dan videografer mengintegrasikan ragam gagasan dan kemampuan dalam satu karya audiovisual “Sampurasun”, pada 17 Agustus 2017.

Berlanjut pada karya jawaban Rampes (baca: raamfest) dengan meluncurkan Buku Novel “Kota Tujuh Stanza” yang secara resmi diluncurkan bersamaan Album “Satu Frekuensi”, dengan memberi ‘Ruang Anak-anak Muda’ dan menanggapi ‘ReAction A Movement’ Festival, pada 26 Desember 2017.

Social media yg bisa di kunjungi Instagram : @raamfestdotcom

 

 

 

DISPLAY KARYA RUPA LOKAL

 

ERFAN / CANSAME (HERPAN PRANATA)

Grafli ti Writer

Perupa graffi ti yang juga menjalankan usaha mandiri POSSIBLE DEPT (Urban Art Supplies & Collective Store.) Memulai aktifitas bombing pada tahun 2008 hingga hari ini. Pernah terlibat dalam beragam event graffi ti antar kota, WALL LORDS Indonesia salah satunya juga event lokal (first street teror , tasikmalaya street art , color invasion dll). Ia juga merupakan salah satu inisiator event Temboktasik, juga forum rutin RABU CERIA, momen saling berbagi pengalaman, gerakan dan skill di antara pelaku graffi ti .

 

BOGEL / TERRASVCK (ANGGIL SUKMA)

Illustrator

Memulai serius berkarya pada tahun 2012. Merupakan juga vokalis band lokal Tasikmalaya, Dirtyvictory. Karya ilustrasinya bernuansa surealis, terpengaruh sci-fi, fantasi yang teradaptasi dari style Arik Roper, Dan Mcpharlin, Kilian Eng, Roger Dean dsb. Hingga hari ini ia masih konsisten bermusik dan berkarya rupa untuk kebutuhan visual band lokal maupun luar negeri dan sering ikut serta dalam beberapa pameran lokal.

 

KIKEN / DEMONSARTDEVILS (RIFQIE FILANDANI ELGHAZALIE)

Illustrator

Berkarya sejak usia dini, ia mulai serius menekuni karya rupa sejak 2013. Ia bekerja penuh waktu sebagai ilustrator hingga hari ini. Menangani kebutuhan visual bagi brand, clothing line/apparel, juga beragam band, gigs hingga sampul album.

No Comments
Leave a Comment

WhatsApp chat